Tumbuhkan Rasa Hormat pada Petani Lewat Praktik Kebun di SMP Muhammadiyah 36
Dunia pertanian seringkali dianggap sebagai sektor yang kurang menarik bagi generasi muda masa kini yang lebih terpikat dengan dunia teknologi dan media sosial. Namun, di SMP Muhammadiyah 36, paradigma tersebut perlahan diubah melalui pendekatan yang menyentuh hati dan akal budi. Melalui Praktik Kebun yang terintegrasi dalam kurikulum, para siswa diajak untuk menyelami betapa beratnya perjuangan seorang petani untuk menyediakan pangan bagi masyarakat luas, sehingga muncul rasa penghargaan yang tulus atas setiap butir nasi atau potongan sayuran yang mereka konsumsi sehari-hari.
Menanam bukan sekadar memindahkan benih ke tanah, melainkan sebuah proses yang membutuhkan kesabaran luar biasa. Di Praktik Kebun sekolah, siswa belajar bahwa setiap tanaman memiliki karakteristik unik yang harus dipahami. Ada saat di mana tanaman membutuhkan air lebih banyak, ada saat mereka harus dipangkas agar tumbuh optimal, dan ada kalanya mereka rentan terhadap serangan hama. Ketika siswa mengalami sendiri bagaimana sulitnya mengusir ulat atau memupuk tanaman di bawah terik matahari, mereka mulai memahami bahwa menjadi produsen pangan bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan.
Inilah momen ketika rasa hormat kepada petani mulai tumbuh subur. Siswa tidak lagi memandang profesi petani sebagai pekerjaan kotor yang ketinggalan zaman, melainkan sebuah profesi mulia yang menjadi tulang punggung peradaban. Tanpa petani, meja makan kita akan kosong. Kesadaran akan ketergantungan manusia terhadap alam dan mereka yang mengolahnya inilah yang ingin ditanamkan oleh sekolah. Dengan menanam sendiri, siswa secara tidak langsung sedang membangun empati dan rasa terima kasih kepada para petani yang telah bekerja keras di sawah dan ladang mereka.
Proses ini juga melibatkan pembelajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan. Dalam SMP Muhammadiyah 36, kegiatan berkebun sering kali diikuti dengan diskusi reflektif. Guru membimbing siswa untuk merenungkan, “Jika kita saja sudah lelah merawat sepuluh tanaman di sekolah, bayangkan bagaimana lelahnya petani yang merawat hektaran sawah.” Refleksi ini sangat efektif untuk mengubah pola pikir siswa agar lebih menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakan apa yang sudah tersedia. Mereka diajarkan bahwa di setiap hasil panen yang mereka nikmati, terdapat tetesan keringat dan doa dari seorang petani.
