Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami nilai-nilai kehidupan yang ada di sekitar kita. SMP Muhammadiyah 36 telah meluncurkan sebuah inisiatif yang sangat kreatif melalui program dongeng yang rutin digelar di taman baca warga. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya menjaga ekosistem sejak dini melalui metode bercerita yang interaktif, hangat, dan sangat mudah dicerna oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam setiap sesinya, para siswa yang menjadi relawan pembaca dongeng tampil dengan kostum sederhana dan alat peraga buatan sendiri. Mereka membawakan kisah-kisah fabel yang sarat dengan pesan moral mengenai kelestarian hutan, pentingnya air bersih bagi kehidupan, serta bahaya membuang sampah sembarangan di sungai. Dengan gaya bahasa yang komunikatif, para siswa mampu menghidupkan suasana di taman baca warga yang sebelumnya cenderung sepi, menjadi pusat edukasi yang penuh dengan tawa dan antusiasme dari warga setempat.
Metode bercerita dipilih karena memiliki daya tarik yang kuat dalam menyampaikan pesan-pesan yang bersifat kompleks menjadi lebih sederhana. Ketika anak-anak mendengarkan dongeng tentang hewan yang kehilangan tempat tinggal akibat penebangan pohon secara liar, mereka secara tidak langsung akan merasa empati dan memahami alasan di balik pentingnya menjaga ekosistem. Inilah bentuk edukasi alam yang sangat efektif karena menyentuh sisi emosional audiens, bukan sekadar memberikan hafalan teori di dalam ruang kelas yang membosankan.
Selain membangun kesadaran lingkungan, kegiatan ini juga memperkuat jalinan silaturahmi antara pihak sekolah dengan masyarakat sekitar. Taman baca warga yang dikelola oleh komunitas kini menjadi lebih hidup berkat kehadiran para siswa SMP Muhammadiyah 36. Warga merasa dilibatkan dalam proses pendidikan karakter anak-anak mereka, sementara siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan masyarakat luas. Hubungan simbiosis mutualisme ini menciptakan lingkungan sosial yang suportif terhadap kegiatan-kegiatan positif dan inovatif di tengah pemukiman warga.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari persiapan matang para siswa. Sebelum tampil, mereka melakukan riset mengenai isu lingkungan aktual di daerah setempat agar cerita yang disampaikan relevan dengan situasi nyata. Misalnya, saat musim hujan tiba, tema dongeng yang diangkat bisa berkaitan dengan bahaya banjir dan pentingnya menjaga kebersihan selokan. Kemampuan untuk mengaitkan cerita dengan realita kehidupan sehari-hari inilah yang membuat dongeng menjadi senjata literasi yang luar biasa tajam dalam membentuk pola pikir masyarakat yang lebih peduli pada lingkungan mereka.
