Memasuki tahun 2026, wajah dunia pendidikan dan pola asuh anak mengalami perubahan yang sangat drastis seiring dengan semakin masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam bentuk fisik. Fenomena ini menjadi perhatian utama bagi sekolah Muhammadiyah 36, yang baru-baru ini menyelenggarakan seminar edukatif mengenai strategi parenting modern. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana orang tua harus bersikap di tengah kehadiran teknologi AI Humanoid yang kini mulai masuk ke dalam ruang-ruang privat keluarga sebagai asisten rumah tangga maupun teman bermain anak-anak.
Era baru ini membawa tantangan yang belum pernah dihadapi oleh generasi sebelumnya. Jika dulu orang tua hanya perlu khawatir tentang durasi penggunaan gawai atau screen time, kini mereka harus berhadapan dengan entitas cerdas yang mampu berinteraksi secara fisik dan emosional dengan anak mereka. Di lingkungan sekolah Muhammadiyah 36, para pendidik menekankan bahwa teknologi ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, robot cerdas ini dapat menjadi sarana belajar yang sangat efektif, namun di sisi lain, ada risiko ketergantungan emosional yang dapat mengaburkan batasan antara hubungan manusia sejati dengan interaksi mesin.
Salah satu tips utama yang dibagikan dalam seminar tersebut adalah pentingnya pengawasan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dialogis. Orang tua tidak bisa lagi hanya mengandalkan fitur parental control pada perangkat. Di tahun 2026 ini AI Humanoid, orang tua dituntut untuk memiliki pemahaman literasi digital yang jauh lebih tinggi. Mereka harus mampu menjelaskan kepada anak-anak bahwa meskipun asisten cerdas mereka terlihat seperti manusia dan bisa merespons perasaan, mereka tetaplah produk algoritma yang tidak memiliki nurani. Mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan empati antar sesama manusia harus tetap menjadi prioritas utama dalam kurikulum pola asuh di rumah.
Selain itu, sekolah juga menyoroti aspek privasi data. Robot-robot ini bekerja dengan merekam percakapan dan kebiasaan di dalam rumah untuk memberikan layanan yang lebih personal. Jika tidak diawasi dengan ketat, data-data sensitif mengenai tumbuh kembang anak bisa saja jatuh ke pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penguatan keamanan siber di tingkat rumah tangga menjadi salah satu materi krusial yang dibahas. Orang tua diajak untuk lebih selektif dalam memilih produk teknologi yang masuk ke dalam rumah dan memastikan bahwa perusahaan pengembang memiliki standar etika yang jelas.
