Kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup kini mulai ditanamkan sejak dini di bangku sekolah menengah. Salah satu inovasi yang menonjol datang dari laboratorium sains SMP Muhammadiyah 36, yang kini menjadi pusat riset sederhana namun berdampak besar melalui program Muhammadiyah 36 Lab. Fokus utama mereka saat ini adalah menjawab tantangan global mengenai sampah plastik dengan cara mencari alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan. Para siswa diajak untuk terjun langsung dalam penelitian praktis, yakni memanfaatkan sisa makanan atau bahan organik yang tidak terpakai menjadi produk yang memiliki nilai guna tinggi bagi lingkungan.
Kegiatan inti dari lab ini adalah proyek Membuat Bio-Plastik yang bahan bakunya diambil sepenuhnya dari area sekolah. Limbah kantin, seperti kulit pisang, pati singkong, hingga sisa sayuran, dikumpulkan dan diproses melalui berbagai tahap eksperimen kimiawi sederhana. Para siswa belajar bagaimana mengekstraksi selulosa atau pati dari limbah tersebut, mencampurkannya dengan gliserol alami, dan mengeringkannya hingga menjadi lembaran plastik biodegradable. Proses ini memberikan pemahaman nyata kepada siswa bahwa solusi untuk masalah lingkungan sering kali berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari jika kita memiliki kreativitas dan kemauan untuk meneliti.
Keunggulan dari program di Muhammadiyah 36 Lab ini adalah integrasi antara kurikulum sains dan etika lingkungan Islam. Siswa diajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari amanah sebagai khalifah di muka bumi. Dengan memanfaatkan Limbah Kantin, mereka belajar tentang efisiensi sumber daya dan konsep zero waste. Bio-plastik yang dihasilkan memang belum diproduksi secara masal, namun hasil eksperimen ini membuktikan bahwa plastik yang mudah terurai secara alami bisa dibuat tanpa menggunakan bahan bakar fosil. Pengalaman ini membentuk pola pikir saintifik yang solutif bagi siswa, di mana mereka tidak hanya belajar teori di buku, tetapi juga menemukan solusi praktis atas masalah sampah di sekolah mereka.
Secara teknis, eksperimen ini melibatkan pemahaman tentang polimer alami. Siswa harus melakukan trial dan error untuk mendapatkan komposisi yang tepat agar bio-plastik yang dihasilkan memiliki kekuatan tarik yang cukup namun tetap lentur. Di dalam Muhammadiyah 36 Lab, kegagalan dalam eksperimen dipandang sebagai proses belajar yang penting. Guru pendamping berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk menganalisis mengapa suatu bahan gagal mengeras atau mengapa bahan lainnya terlalu rapuh. Kemampuan analisis data ini adalah keterampilan fundamental yang sangat dibutuhkan jika mereka ingin melanjutkan karier sebagai peneliti atau teknokrat di masa depan.
