Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sekolah di Jakarta pada tahun 2026, SMP Muhammadiyah 36 berhasil mempertahankan sebuah tradisi yang sangat menyentuh hati. Sekolah ini bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ladang persemaian empati bagi para siswanya. Salah satu momen yang paling dinantikan setiap harinya adalah indahnya berbagi bekal yang dilakukan secara spontan oleh para murid. Aktivitas ini terjadi secara alami di waktu istirahat, di mana selasar kelas dan area taman sekolah berubah menjadi ruang makan besar yang penuh dengan tawa dan semangat kebersamaan.
Tradisi di Muhammadiyah 36 ini bermula dari nilai-nilai kemuhammadiyahan yang diajarkan, yaitu tentang kepedulian terhadap sesama. Makna dari indahnya berbagi bekal terlihat ketika para siswa duduk melingkar dan mulai membuka kotak makan mereka masing-masing. Alih-alih makan sendiri-sendiri, mereka justru saling menawarkan lauk yang mereka bawa dari rumah. Pemandangan di waktu istirahat ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan antar-siswa. Tidak ada sekat antara mereka yang membawa menu mewah maupun menu sederhana; semua melebur dalam satu rasa syukur yang sama, menciptakan harmoni yang indah di lingkungan sekolah.
Secara psikologis, aktivitas di Muhammadiyah 36 ini memiliki dampak positif yang sangat besar bagi perkembangan karakter remaja di tahun 2026. Kebiasaan indahnya berbagi bekal mengajarkan siswa tentang arti kedermawanan sejak dini. Saat mereka berbagi makanan di waktu istirahat, mereka sebenarnya sedang belajar untuk memikirkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Hal ini sangat efektif untuk meminimalisir sifat egois dan individualisme yang sering kali muncul akibat pengaruh negatif penggunaan gawai yang berlebihan. Di sekolah ini, makanan bukan sekadar pengganjal perut, melainkan alat komunikasi yang ampuh untuk mempererat persahabatan.
Selain itu, momen indahnya berbagi bekal di Muhammadiyah 36 juga menjadi sarana edukasi nutrisi yang menarik. Siswa sering kali saling bertukar informasi tentang menu sehat yang disiapkan oleh orang tua mereka. Obrolan di waktu istirahat sering kali diisi dengan pujian atas masakan ibu teman mereka, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa bangga terhadap masakan rumah. Guru-guru di Muhammadiyah 36 pun sering kali memantau kegiatan ini sambil memberikan pesan-pesan singkat tentang pentingnya makanan halalan thayyiban, sehingga waktu istirahat tetap memiliki nilai edukatif yang tinggi namun tetap santai dan menyenangkan.
