Pendidikan di lingkungan Muhammadiyah selalu identik dengan semangat filantropi dan pengabdian masyarakat. Namun, memasuki era digital yang semakin pesat, SMP Muhammadiyah 36 melakukan sebuah lompatan besar dengan menggabungkan semangat berbagi tersebut dengan kemajuan teknologi. Program yang mereka usung, Muhammadiyah 36 Charity Tech, bukan sekadar proyek sampingan, melainkan sebuah kurikulum terintegrasi yang mengajarkan siswa untuk menjadi pemecah masalah bagi masyarakat di sekitar mereka. Di sini, kode-kode pemrograman dan sirkuit elektronik diubah menjadi alat untuk menebar kebaikan.
Siswa di sekolah ini tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi didorong untuk melakukan observasi lapangan guna menemukan masalah nyata yang dihadapi oleh warga. Konsep Inovasi Siswa yang dikembangkan di sini berbasis pada empati. Misalnya, jika mereka menemukan pedagang kaki lima di sekitar sekolah yang kesulitan mengelola keuangan, para siswa akan mencoba merancang aplikasi kasir sederhana yang mudah digunakan. Atau, jika ada panti asuhan yang membutuhkan sistem pencahayaan hemat energi, tim robotika sekolah akan turun tangan membuat lampu sensor gerak otomatis.
Fokus utama dari inisiatif ini adalah bagaimana teknologi bisa secara nyata Bantu Komunitas Lokal. Di tahun 2026, tantangan ekonomi dan sosial semakin kompleks, dan sekolah memandang bahwa memberikan bantuan berupa uang saja tidak lagi cukup. Melalui pemberdayaan teknologi, siswa memberikan solusi yang berkelanjutan. Mereka belajar tentang design thinking, sebuah metode di mana setiap inovasi harus dimulai dengan memahami kebutuhan pengguna secara mendalam. Hal ini memastikan bahwa alat yang mereka ciptakan benar-benar fungsional dan tepat guna bagi warga yang membutuhkan.
Program Charity Tech ini juga menjadi wadah bagi siswa untuk mengasah keterampilan lunak mereka. Mereka harus berdialog dengan tokoh masyarakat, mempresentasikan ide mereka kepada calon donatur, dan melakukan uji coba produk langsung di lapangan. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri dan kepedulian sosial yang tinggi. Mereka tidak lagi memandang teknologi sebagai alat untuk hiburan semata atau sekadar mengejar nilai akademik, tetapi sebagai amanah untuk membawa manfaat bagi orang lain sesuai dengan prinsip “khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama).
