Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, tantangan yang dihadapi oleh para remaja di kota besar seperti Jakarta menjadi semakin kompleks. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol seringkali membawa dampak buruk, mulai dari perundungan siber hingga paparan konten yang tidak sesuai usia. Menanggapi fenomena ini, SMP Muhammadiyah 36 Jakarta hadir dengan formula pendidikan yang memadukan sisi modern dan nilai-nilai agamis sebagai perisai utama bagi para siswanya.
Sekolah ini menyadari bahwa melarang siswa menggunakan teknologi sama sekali adalah langkah yang tidak realistis. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil adalah dengan memberikan edukasi literasi digital yang mendalam. Siswa diajarkan bagaimana cara menyaring informasi dan menggunakan platform digital secara produktif. Di saat yang sama, penguatan aspek spiritual menjadi fondasi agar siswa memiliki kendali diri yang kuat. Ketika seorang anak memiliki pemahaman agama yang baik, mereka akan memiliki “filter internal” untuk menjauhi dampak negatif medsos seperti penyebaran berita bohong atau perilaku pamer kemewahan yang tidak bermanfaat.
Keunggulan dari SMP Muhammadiyah 36 Jakarta terletak pada kurikulumnya yang dinamis. Di satu sisi, fasilitas laboratorium komputer dan akses internet digunakan untuk menunjang kreativitas siswa dalam belajar. Di sisi lain, pembiasaan ibadah seperti shalat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan kajian akhlak menjadi rutinitas yang tidak boleh ditinggalkan. Sinergi ini menciptakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan emosional. Siswa didorong untuk menjadi individu yang melek teknologi namun tetap rendah hati dan menjunjung tinggi norma kesopanan.
Guru-guru di sekolah ini berperan aktif sebagai mentor sekaligus sahabat bagi siswa. Mereka secara rutin memantau perkembangan perilaku siswa, baik di dunia nyata maupun interaksi mereka di dunia maya secara persuasif. Diskusi terbuka mengenai isu-isu terkini di media sosial sering diadakan di dalam kelas untuk melatih daya kritis siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi mampu menganalisis secara mendalam setiap informasi yang mereka terima. Hal ini sangat penting dalam membangun karakter yang teguh di tengah arus globalisasi.
Pihak sekolah juga melibatkan orang tua dalam program “Parenting Digital”. Program ini bertujuan agar ada keselarasan antara pengawasan di sekolah dan di rumah. Orang tua diberikan pemahaman mengenai cara berkomunikasi yang efektif dengan anak mengenai penggunaan gawai. Dengan kerjasama yang solid ini, risiko kecanduan gadget atau gangguan mental akibat tekanan media sosial dapat diminimalisir. Pendidikan di sekolah ini membuktikan bahwa menjadi religius bukan berarti tertinggal secara zaman, justru nilai agama menjadi kompas agar tidak tersesat di rimba digital.
