SMP Muhammadiyah 36 Jakarta tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga dalam inovasi lingkungan. Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa berhasil membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir, melainkan awal dari kreasi. Mereka mengubah Limbah Jadi Karya Seni yang memiliki nilai estetika dan jual.
Fokus proyek ini adalah pada pemanfaatan limbah anorganik seperti botol plastik, bungkus deterjen, dan kardus bekas yang dikumpulkan dari lingkungan sekolah. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mengasah keterampilan motorik dan kreativitas siswa secara praktis.
Salah satu hasil karya yang sempat viral adalah “Patung Gatotkaca dari Botol Plastik” yang disatukan menggunakan teknik ecobrick dan lem. Selain itu, ada juga replika miniatur bangunan dari kardus bekas. Semua Limbah Jadi Karya Seni bernilai tinggi.
Program ini diwajibkan bagi seluruh siswa kelas VII, di mana mereka harus memilah sampah dari rumah dan sekolah. Mereka diajarkan proses daur ulang secara menyeluruh, mulai dari pembersihan, sterilisasi, hingga tahap perancangan dan perakitan akhir.
Dampak positifnya meluas. Siswa tidak lagi melihat sampah sebagai barang buangan, melainkan sebagai bahan baku yang potensial. Nilai-nilai keberlanjutan dan ekonomi sirkular tertanam kuat melalui proses belajar yang menyenangkan dan langsung.
Guru-guru di SMP Muhammadiyah 36 berperan sebagai fasilitator, bukan sekadar pengajar. Mereka membantu siswa menyalurkan ide-ide gila dan mengubahnya menjadi produk fungsional dan dekoratif. Kolaborasi antar mata pelajaran pun terjadi.
Karya-karya inovatif ini secara rutin dipamerkan dalam acara Gelar Karya Sekolah dan bahkan dijual melalui School Bazaar. Hal ini memberikan pengalaman wirausaha, menunjukkan bahwa produk dari Limbah Jadi Karya Seni memiliki potensi ekonomi.
Inisiatif SMP Muhammadiyah 36 ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan harus bersifat hands-on dan kreatif. Sekolah ini sukses menginspirasi sekolah lain untuk mengubah masalah limbah menjadi peluang dan menjadikan proyek Limbah Jadi Karya Seni sebagai kurikulum unggulan.
