Dunia pertanian sering kali dianggap sebagai sektor yang konvensional dan kurang menarik bagi generasi z. Namun, sebuah terobosan luar biasa ditunjukkan oleh para siswa di SMP 36 yang berhasil membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi bidang yang sangat elit dan berteknologi tinggi. Melalui program penanaman melon premium, sekolah ini tidak hanya mengajarkan cara bercocok tanam, tetapi juga menanamkan jiwa kewirausahaan modern yang berbasis pada kualitas produk tinggi. Proyek ini menjadi sebuah langkah nyata dalam mencetak agropreneur muda yang siap bersaing di pasar pangan masa depan dengan produk unggulan yang memiliki nilai jual di atas rata-rata.
Memilih melon sebagai komoditas utama tentu bukan tanpa alasan yang kuat. Melon, terutama varietas unggul seperti melon Jepang atau melon hidroponik, memerlukan perawatan yang sangat spesifik dan presisi. Di SMP 36, para siswa diajarkan bahwa untuk menghasilkan buah dengan tingkat kemanisan (brix) yang tinggi, diperlukan kontrol nutrisi yang ketat dan pemantauan lingkungan yang konsisten. Inilah yang disebut sebagai sebuah inovasi dalam kurikulum sekolah, di mana sains biologi bertemu dengan teknologi pertanian praktis. Siswa belajar menggunakan alat ukur digital untuk memastikan setiap tetes nutrisi yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan fase pertumbuhan tanaman.
Proses budidaya dimulai dari pemilihan benih yang bersertifikat. Siswa tidak sekadar menanam, mereka melakukan riset kecil mengenai varietas mana yang paling disukai pasar namun tetap adaptif dengan iklim lingkungan sekolah. Ketelitian para siswa diuji saat memasuki fase penyerbukan buatan dan pemangkasan tunas air. Mereka harus memastikan bahwa satu pohon hanya menyisakan satu buah terbaik agar seluruh nutrisi terfokus pada buah tersebut. Teknik ini merupakan rahasia di balik terciptanya melon premium yang memiliki tekstur daging buah yang renyah dan aroma yang sangat harum. Pengalaman fisik ini memberikan pemahaman mendalam bahwa kualitas tidak pernah datang dari proses yang instan.
Selain aspek teknis, proyek ini sangat menekankan pada manajemen bisnis. Para siswa yang terlibat dalam kelompok agropreneur muda ini harus menghitung biaya produksi secara detail, mulai dari harga benih, media tanam, hingga listrik untuk pompa nutrisi. Mereka diajarkan bahwa sebuah usaha pertanian harus berkelanjutan secara finansial. Ketika masa panen tiba, hasil buah tidak dijual secara sembarangan di pasar tradisional dengan harga murah. Mereka mengemasnya dengan kotak eksklusif dan memberikan label merek sendiri. Branding yang kuat ini membuat melon hasil kebun sekolah ini diminati oleh kalangan terbatas dan wali murid yang menghargai proses organik dan higienis.
