SMP Muhammadiyah 36 mengambil langkah nyata dalam pendidikan lingkungan melalui peluncuran Proyek IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) yang berfokus pada Kelola Sampah berbasis Ekosistem Sekolah. Inisiatif ini bukan hanya sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi merupakan integrasi kurikulum yang bertujuan untuk memberikan pemahaman holistik kepada siswa tentang tanggung jawab lingkungan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Proyek ini menekankan bahwa sekolah, dengan segala elemennya—mulai dari kantin, ruang kelas, hingga taman—adalah sebuah Ekosistem Sekolah yang harus dijaga keberlanjutannya.
Inti dari Proyek IPAS ini adalah mengubah cara pandang siswa terhadap sampah. Sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan. Dalam fase awal proyek, siswa melakukan audit sampah di seluruh Ekosistem Sekolah, mengidentifikasi jenis dan volume sampah yang dihasilkan. Data ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk merancang solusi Kelola Sampah yang paling efektif, mulai dari pemilahan di sumber, komposting, hingga daur ulang. Kegiatan ini melibatkan penerapan ilmu Biologi (dekomposisi dan komposting), Kimia (reaksi dalam pengolahan limbah), dan bahkan Matematika (perhitungan volume dan biaya).
Komponen utama dari Proyek IPAS ini adalah sistem Kelola Sampah terpadu. Sampah organik dari sisa makanan di kantin dan daun kering di taman dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman di Ekosistem Sekolah. Sampah anorganik, seperti plastik dan kertas, dipilah untuk dijual atau didaur ulang menjadi produk kerajinan bernilai jual. Siswa terlibat dalam setiap tahapan proses ini, mulai dari pengumpulan hingga pemasaran produk daur ulang. Keterlibatan langsung ini mengajarkan mereka tentang siklus material dan ekonomi sirkular, jauh melampaui teori di buku teks.
Keunikan proyek di SMP Muhammadiyah 36 terletak pada pendekatannya yang berbasis Ekosistem Sekolah. Artinya, solusi yang diterapkan harus berkelanjutan dan relevan dengan lingkungan sekolah itu sendiri. Proyek IPAS ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama. Dengan menjadikan setiap sudut sekolah sebagai laboratorium hidup untuk Kelola Sampah, siswa secara otomatis menginternalisasi praktik hidup ramah lingkungan. Dampaknya, volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang drastis, dan area sekolah menjadi lebih bersih dan hijau.
Melalui Proyek IPAS ini, SMP Muhammadiyah 36 telah berhasil menciptakan budaya peduli lingkungan yang kuat. Mereka membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, dalam hal ini IPAS, menjadi sangat bermakna ketika diterapkan untuk memecahkan masalah nyata. Kelola Sampah yang efektif, yang didukung oleh pemahaman ilmiah, telah menjadikan Ekosistem Sekolah ini model percontohan yang inspiratif bagi sekolah lain dalam mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
