Membangun karakter pemimpin sejak usia dini merupakan salah satu visi utama yang terus dikembangkan oleh institusi pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah. Pada tahun ini, SMP Muhammadiyah 36 kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak kader-kader organisasi yang tangguh dan bertanggung jawab. Melalui agenda tahunan yang dikemas secara inovatif, sekolah mengadakan sebuah pelatihan kepemimpinan yang dirancang khusus bagi para ketua kelas dan jajaran pengurus kelas lainnya. Selain fokus pada manajerial organisasi, para siswa juga dibekali dengan kemampuan teknis darurat seperti skill tangani luka ringan agar mereka mampu menjadi penolong pertama bagi teman sejawat saat terjadi insiden kecil di lingkungan sekolah.
Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai etika kepemimpinan dalam Islam. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kekuasaan, melainkan amanah untuk melayani dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar. Para pengurus kelas diajarkan bagaimana cara melakukan negosiasi yang baik, menyelesaikan konflik antar teman dengan kepala dingin, serta menyusun program kerja kelas yang kreatif namun tetap realistis. Strategi ini sangat penting mengingat dinamika sosial siswa di tingkat menengah pertama sering kali memerlukan pendekatan yang persuasif dan penuh empati agar solidaritas kelas tetap terjaga.
Materi yang disampaikan dalam pelatihan kepemimpinan ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis melalui berbagai simulasi problem solving. Siswa dilatih untuk berani berbicara di depan umum (public speaking) guna menyampaikan aspirasi rekan-rekan mereka dengan cara yang sopan dan terstruktur. Pihak sekolah meyakini bahwa kemampuan berkomunikasi adalah senjata utama bagi seorang pemimpin. Dengan melatih kepercayaan diri sejak dini, lulusan SMP Muhammadiyah 36 diharapkan tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki mentalitas juara yang siap bersaing di kancah yang lebih luas di masa depan.
Aspek kedisiplinan juga menjadi sorotan utama dalam pelatihan tahun 2026 ini. Kedisiplinan bukan berarti tunduk pada aturan karena rasa takut, melainkan kesadaran diri untuk menghargai waktu dan komitmen. Para siswa diajarkan untuk mengelola waktu antara tugas sekolah, hobi, dan tanggung jawab organisasi. Pengelolaan waktu yang baik akan menghindarkan mereka dari stres dan memastikan seluruh tugas dapat diselesaikan secara optimal. Guru-guru pendamping bertindak sebagai mentor yang memberikan masukan konstruktif atas setiap simulasi yang dilakukan, sehingga siswa benar-benar merasakan pengalaman belajar yang nyata dan berkesan.
